Kamis, 08 April 2010

DISPEPSIA

      Nama : Komang Dewi Sriwati
      Kelas  : F/KP/VI
      NIM    : 04.07.1808

DISPEPSIA

Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada saluran penceranaan, khususnya lambung. Dispepsia dapat berupa rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian tengah keatas. Rasa nyeri tidak menentu, kadang menetap atau kambuh. Dispepsia umumnya diderita oleh kaum produktif dan kebanyakan penyebabnya adalah pola atau gaya hiudup tidak sehat. Gejalanya pun bervariasi mulai dari nyeri ulu hati, mual-muntah, rasa penuh di ulu hati, sebah, sendawa yang berlebihan bahkan bisa menyebabkan diare dengan segala komplikasinya.
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab timbulnya dispepsia, yaitu pengleuaran asam lambung berlebih, pertahanan dindins lambung yang lemah, infeksi Helicobacter pylori (sejenis bakteri yang hidup di dalam lambung dalam jumlah kecil, gangguan gerakan saluran pencernaan, dan stress psikologis (Ariyanto, 2007).
Terkadang dispepsia dapat menjadi tanda dari masalah serius, contohnya penyakit ulkus lambung yang parah. Tak jarang, dispepsia disebabkan karena kanker lambung, sehingga harus diatasi dengan serius. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan bila terdapat salah satu dari tanda ini, yaitu:
1.    Usia 50 tahun keatas
2.    Kehilangan berat badan tanpa disengaja
3.    Kesulitan menelan
4.    Terkadang mual-muntah
5.    Buang air besar tidak lancar
6.    Merasa penuh di daerah perut (Bazaldua, et al, 1999)
Secara umum dispepsia terbagi menjadi dua jenis, yaitu dispepsia organik dan dispepsia nonorganik atau dispesia fungsional. Dispepsia organik jarang ditemukan pada usia muda, tetapi banyak ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun (Richter cit Hadi, 2002). Dispepsia dapat disebut dispepsia organik apabila penyebabnya telah diketahui secara jelas. Dispepsia fungsional atau dispepsia non-organik, merupakan dispepsia yang tidak ada kelainan organik tetapi merupakan kelainan fungsi dari saluran makanan (Heading, Nyren, Malagelada cit Hadi, 2002).


1.   Definisi
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani "δυς-" (Dys-), berarti sulit , dan  έψη" (Pepse), berarti pencernaan (N.Talley, et al., 2005). Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung, kini tidak lagi termasuk dispepsia. Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
1.    Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya. Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2.    Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluran pencernaan).
Definisi lain, dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut. Setiap orang dari berbagai usia dapat terkena dispepsia, baik pria maupun wanita. Sekitar satu dari empat orang dapat terkena dispepsia dalam beberapa waktu (Bazaldua, et al, 1999)
Diagnosis banding nyeri/ketidaknyamanan abdomen atas

      Dispepsia Organik                                    Dispepsia Fungsional
-Ulkus peptik kronik (ulkus ventrikul, ulkus          -Disfungsi sensorik-motorik gastroduodenum
 duodeni)                                           -Gastroparesis idiopatik/hipomotilitas antrum
-Gastro-oesophageal reflux disease (GORD),        -Disritmia gaster
 dengan atau tanpa esofagitis                     -Hipersensitivitas gaster/duodenum
-Obat : OAINS, aspirin                               -Faktor psikososial
-Kolelitiasis simtomatik                                -Gastritis H.pylori
-Gangguan metabolik (uremia, hiperkalsemia,        -Idiopatik
 gastroparesis DM)
-Keganasan (gaster, pankreas, kolon)
-Insufisiensi vaskula mesentrikus
-Nyeri dinding perut

2.   Etiologi
Seringnya, dispepsia disebabkan oleh ulkus lambung atau penyakit acid reflux. Jika anda memiliki penyakit acid reflux, asam lambung terdorong ke atas menuju esofagus (saluran muskulo membranosa yang membentang dari faring ke dalam lambung). Hal ini menyebabkan nyeri di dada. Beberapa obat-obatan, seperti obat anti-inflammatory, dapat menyebabkan dispepsia. Terkadang penyebab dispepsia belum dapat ditemukan.
Penyebab dispepsia secara rinci adalah:
1.    Menelan udara (aerofagi)
2.    Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
3.    Iritasi lambung (gastritis)
4.    Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
5.    Kanker lambung
6.    Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
7.    Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
8.    Kelainan gerakan usus
9.    Stress psikologis, kecemasan, atau depresi
10. Infeksi Helicobacter pylory

3.   Manifestasi Klinis
Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, membagi dispepsia menjadi tiga tipe :
  1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus-like dyspepsia), dengan gejala:
a.    Nyeri epigastrium terlokalisasi
b.   Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid
c.   Nyeri saat lapar
d.   Nyeri episodik
  1. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspesia), dengan gejala:
a.    Mudah kenyang
b.   Perut cepat terasa penuh saat makan
c.   Mual
d.   Muntah
e.    Upper abdominal bloating (bengkak perut bagian atas)
f.    Rasa tak nyaman bertambah saat makan
  1. Dispepsia nonspesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas)

Sindroma dispepsia dapat bersifat ringan, sedang, dan berat, serta dapat akut atau kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnya. Pembagian akut dan kronik berdasarkan atas jangka waktu tiga bulan.
Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya.
Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).
Jika dispepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi respon terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksaan.

4.   Pemeriksaan
Pemeriksaan untuk penanganan dispepsia terbagi beberapa bagian, yaitu:
  1.  Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja, dan urine. Dari hasil pemeriksaan darah bila ditemukan lekositosis berarti ada tanda-tanda infeksi. Pada pemeriksaan tinja, jika tampak cair berlendir atau banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderita malabsorpsi. Seseorang yang diduga menderita dispepsia tukak, sebaiknya diperiksa asam lambung (Hadi, 2002). Pada karsinoma saluran pencernaan perlu diperiksa petanda tumor, misalnya dugaan karsinoma kolon perlu diperiksa CEA, dugaan karsinoma pankreas perlu diperiksa CA 19-9 (Vilano et al, cit Hadi, 2002).
  2. Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan (Mansjoer, 2007).
  3. Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan pemeriksaan baku emas, selain sebagai diagnostik sekaligus terapeutik. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah:
a.    CLO (rapid urea test)
b.   Patologi anatomi (PA)
c.   Kultur mikroorgsanisme (MO) jaringan
d.   PCR (polymerase chain reaction), hanya dalam rangka penelitian
  1. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi, yaitu OMD dengan kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan urea breath test (belum tersedia di Indonesia) (Mansjoer, 2007). Pemeriksaan radiologis dilakukan terhadap saluran makan bagian atas dan sebaiknya dengan kontras ganda. Pada refluks gastroesofageal akan tampak peristaltik di esofagusnyang menurun terutama di bagian distal, tampak anti-peristaltik di antrum yang meninggi serta sering menutupnya pilorus, sehingga sedikit barium yang masuk ke intestin (Hadi, 2002). Pada tukak baik di lambung, maupun di duodenum akan terlihat gambar yang disebut niche, yaitu suatu kawah dari tukak yang terisi kontras media. Bentuk niche dari tukak yang jinak umumnya reguler, semisirkuler, dengan dasar licin (Vilano et al, cit Hadi, 2002). Kanker di lambung secara radiologis, akan tampak massa yang ireguler tidak terlihat peristaltik di daerah kanker, bentuk dari lambung berubah (Shirakabe cit Hadi, 2002). Pankreatitis akuta perlu dibuat foto polos abdomen, yang akan terlihat tanda seperti terpotongnya usus besar (colon cut off sign), atau tampak dilatasi dari intestin terutama di jejunum yang disebut  sentinal loops (Hadi, 2002).
  2. Kadang dilakukan pemeriksaan lain, seperti pengukuran kontraksi kerongkongan atau respon kerongkongan terhadap asam.





















Pertimbangan dalam Memilih Strategi Pemeriksaan Dispepsia
Strategi                    Kelebihan                         Kekurangan
Endoskopi             Tes baku emas untuk memeriksa              Mahal
                             Gastroduodenal ulcers, reflux        Invasif
                             Esophagitis, dan kanker gastro-                Tidak begitu efektif/praktis untuk
                             intestinal                               pasien muda tanpa gejala alarm
                             Bermanfaat karena lebih 40 persen          Jarang, komplikasi endoskopi
                             pasien dispepsia karena organik
                             Menyediakan cukup jaminan pasien
                             Pilihan tes untuk target terapi
Pengobatan empiris        Strategi yang tidak begitu mahal              Manfaat manghilang dengan adanya
dengan menurunkan       Gejala cepat dikenali                      pengulangan gejala/respon lemah
kadar asam           Rata-rata respon yang tinggi           Rata-rata pengulangan gejala tinggi
                             Dapat mengurangi sejumlah            Dapat menyampaikan kegunaan
                             endoskopi                                      medik yang tidak cocok dan lama
                                                                          Dapat menunda tes diagnosis
                                                                          Dapat menutup gejala malignant ulcers
                                                                          Kemungkinan besar untuk menyediakan
                                                                          jaminan pasien paling kurang
                                                                           Jarang, efek samping yang serius
                                                                          (gynecomastia atau hematologic
                                                                          disorders)
 

Tes H.pylori dan             Berdasarkan review literatur, keli-            Dapat meningkatkan level kebal anti-
perlakuannya jika           hatannya sebuah pendekatan yang           biotik
hasil tes positif               dapat diterima, dan strategi yang             Tes H.pylori kurang akurat
                             tidak begitu mahal dalam pasien               Dapat menghasilkan overtreatment di-
                             sensitif H.pyloti                              karenakan hasil pemeriksaan yang
                             Direkomendasikan oleh American            positif palsu atau undertreatment dika-
                             Gastroenterological Association              reanakan hasil pemeriksaan yang
                             Dapat mengurangi sejumlah            negatif palsu
                             endoskopi                              Manfaat untuk pasien dispepsia
                                                                          fungsional kemungkinan kecil atau
                                                                          tidak ada sama sekali
                                                                          Kanker dan penyakit ulcer bisa terlewati
                                                                          Pasien menjadi tidak punya waktu
                                                                          banyaknya pengobatan
                                                                          Dapat menyebabkan efek samping
                                                                          yang serius (pseudomembranous colitis)
                                                                          Hasil pengobatan pasien yang terinfeksi
                                                                          jangka panjang tidak terdokumentasi
                                                                          secara pasti
 

Pemberantasan              Mencegah pembiayaan H.pylori dan      Beberapa bukti tidak mendukung
empiris H.pylori              endoskopi (penyimpanan biaya                  pendekatan ini
                             aktual mungkin sedikit bila pasien             Dapat meningkatkan level kebal anti-
                             secara rutin membutuhkan endoskopi)   biotik
                             Dapat mengurangi sejumlah            Manfaat untuk pasien dispepsia
                             endoskopi                              fungsional kemungkinan kecil atau
                                                                          tidak ada sama sekali
                                                                           Kanker dan penyakit ulcer bisa terlewati
                                                                          Pasien menjadi tidak punya waktu
                                                                          banyaknya pengobatan
                                                                          Dapat menyebabkan efek samping



                                                                          yang serius (pseudomembranous colitis)
                                                                          Hasil pengobatan pasien yang terinfeksi
                                                                          jangka panjang tidak terdokumentasi
                                                                          secara pasti
Tes untuk H.pylori         Endoskopi akan mendeteksi            Tidak efektif biaya dibandingkan
dan melakukan               gastroduodenal ulcers, reflux         dengan tes untuk H.pylori diikuti
endoskopi jika hasil        esophagitis, dan kanker gastro-                oleh pengobatan jika hasilnya positif
tes positif             intestinal atas                                 Dapat terjadi penggunaan endoskopi
                             Meminimalisir kebal terhadap         secara berlebihan karena terjadi tes
                             antibiotik                              positif palsu
                                                                          Invasif
(N. Talley et al, cit Bazaldua, 1999)

5.   Penatalaksanaan
Berdasarkan Konsensus Nasional Penanggulangan Helicobacter pylori 1996, ditetapkan skema penatalaksanaan dispepsia, yang dibedakan bagi sentra kesehatan dengan tenaga ahli (gastroenterolog atau internis) yang disertai fasilitas endoskopi dengan penatalaksanaan dispepsia di masyarakat.
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu:
1.    Antasid 20-150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa nyeri. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
2.    Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asama lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.
3.   Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan famotidin.



4.   Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)
Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol.
5.   Sitoprotektif
Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
6.    Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan ini, yaitu sisaprid, domperidon, dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance) (Mansjoer et al, 2007).
7.   Kadang kala juga dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmaka (obat anti- depresi dan cemas) pada pasien dengan dispepsia fungsional, karena tidak jarang keluhan yang muncul berhubungan dengan faktor kejiwaan seperti cemas dan depresi (Sawaludin, 2005)













 (Mansjoer et al, 2


Kambuh (maksimal 3x)
 
Terapi empiris selama 2 minggu :
-Antasida
-H2 antagonis/PPI (omeprazol)
-Obat-obat prokinetik
 
Hasil (-)
 
Dispepsia tetap (+)
 
Rujuk
 
Gastroenterelogis / internis atau dokter anak dengan fasilitas endoskopi
 
Rujuk
 
Usia > 45 tahun atau usia < 45 tahun dengan tanda-tanda alarm
 
Dispepsia
 
Usia , 45 tahun tanpa tanda-tanda alarm
 



Tes serologi Hp
 







Rujuk
 








Dispepsia (-)
 
Terapi dihentikan
 






Skema penatalaksanaan pasien dispepsia di masyarakat
(Mansjoer et al, 2007)

Dispepsia
 
 

 




















Skema penatalaksanaan pasien dispepsia oleh gastroenterolog/internis atau dokter anak dengan fasilitas endoskopi
007)

Golongan obat antagonis reseptor H2
Obat      Indikasi                     Dosis           Cara, waktu, dan       Efek samping
                                                          lama pemberian
Simetidin    Tukak peptik akut dan        3x200mg,          Selama 4 minggu             Penekanan eritropoesis,
               kronik                   ditambah                                      sampai pansitopenia
                                            200mg                                           atau neutropenia
                                            sebelum
                                            t idur                        
               Gastritis kronik dengan     200mg Lanjutan, setiap malam  Gangguan SSP seperti
               hiperskresi HCl                                                         konfusi mental, somnolen,
                                                                                      letargi, halusinasi
                                                                                      Gangguan endokrin yaitu
                                                                                      impotensi, ginekomastia
 

Roksatidin   Gastritis akut dan kronik   75mg/hari,         Oral, malam hari,selama 
                    dengan saya selektif       disesuaikan 1 minggu
                    reseptor H­­2 6 kali lebih   dengan
                    baik daripada simetidin  bersihan
                    setara ranitidin    kreatinin
 

Ranitidin      Dispepsia akut dan        2x150mg      Selama 4-6 minggu
                     kronik, khususnya         lanjutan :
                     tukak duodenum aktif  1x150mg      Malam hari
                                                                            
(Mansjoer et al, 2007)

Golongan obat penghambat pompa proton
Text Box: Obat	Indikasi	Dosis	Pemberian	Efek samping
Omeperazol	Tukak peptik


Tukak duodenum	1x20mg/hari


1x20-50mg/hari	Setiap pagi, selama
1-2 minggu, oral

Selama 2-4 hari minggu, oral	Sakit kepala, nuase, diare,
mabuk, lemas, nyeri epigastrik, banyak gas

Lansoprazol	Tukak peptik	1x30mg/hari	4 minggu, oral	Idem
Pantoprazol	Tukak peptik, inhibitor pompa proton yang reversibel	1x40mg/hari	Oral	Idem
(Mansjoer et al, 2007)

Pengobatan farmakologis untuk pasien dispepsia fungsional belum begitu memuaskan. Hasil penelitian controlled trials secara umum masih mengecewakan dan hanya menemukan manfaat yang relatif kecil mengenai placebo dengan histamin antagonis reseptor H2, penghambat pompa asam (proton-pump inhibitors), dan pemberantasan Helicobacter pylori. Walaupun sejumlah penelitian acak (randomized), controlled trials, dan meta-analisis telah menunjukkan keunggulan sisaprid dibandingkan placebo, sekarang kegunaan sisaprid terlarang di kebanyakan negara karena mengakibatkan efek samping pada jantung. (Holtmann et al, 2006)
Di Jepang, itoprid, yang merupakan dopamin antagonis D2 dengan kerja menghambat acetylcholinesterase, sering diresepkan untuk pasien dispepsia fungsional. Walaupun obat ini telah menunjukkan merangsang kemampuan gerak spontan (motality) lambung, penelitian yang dirancang secara tepat, acak, dan controlled trials terhadap pasien dispepsia fungsional masih lemah. Di Jepang, itoprid diresepkan 50 mg untuk tiga kali sehari. Bagaimanapun, respon kecil terhadap pemberian dosis harus dipandang dari populasi lainnya. (Holtmann et al, 2006)
Penelitian yang dilakukan oleh Holtmann dkk membandingkan antara pasien dispepsia fungsional yang diberi resep placebo dan itoprid. Pasien dispepsia fungsional secara acak menerima pengobatan itoprid (50,100, atau 200 mg untuk tiga kali sehari) atau placebo. Setelah delapan minggu pengobatan, tiga poin efikasi utama dianalisa: perubahan dasar berbagai gejala dispepsia fungsional (seperti yang diujikan melalui Leeds Dyspepsia Questionnaire), pengujian global dari efikasi pasien (proporsi pasien tanpa gejala atau tanda peningkatan gejala), dan berbagai keluhan nyeri dan sakit yang dihitung dalam skala tingkat lima. Setelah delapan minggu, 41 persen dari pasien yang menerima placebo ternyata bebas gejala, sebagai perbandingan dengan 57 persen, 59 persen, dan 64 persen yang menerima itoprid dosis 50, 100, 200 mg untuk tiga kali sehari (P<0.05 untuk semua oerbandingan antara placebo dan itoprid). (Holtmann et al, 2006)
Walaupun penilaian bebas gejala secara siginifikan terjadi di keempat kelompok, analisis keseluruhan menyingkap bahwa itoprid lebih unggul secara signifikan daripada placebo, dengan nilai perkembangan bebas gejala untuk kelompok 100 dan 200 mg (-6.24 dan -6.27) versus (-4.50) untuk kelompok placebo; P=0.05. Analisis akhir dan lengkap menunjukkan bahwa itoprid menghasilkan nilai respon yang lebih baik daripada placebo (73 persen versus 63 persen, P=0.04) (Holtmann et al, 2006

















 Pengobatan untuk Dispepsia Fungsional yang Didukung Bukti dan Tanpa Didukung Bukti
Pengobatan yang didukung bukti
Pemberantasan H. pylori
Itoprid
Proton-pump inhibitors (PPI)
Terapi psikologi (terapi perilaku kognisi, hipnoterapi, psikoterapi)

 

Pengobatan tanpa didukung bukti

Antacids
Antispasmodic agents
Bismuth salts
Dietary therapy
Herbal therapy
Histamine H2-receptor antagonists
Misoprostol
Prokinetic agents
Selective serotonin-reuptake inhibitors
Sucralfate
Tricyclic antidepressants (at low doses)
(Longstreth, 2006)

6.   Pencegahan
Modifikasi gaya hidup sangat berperan dalam mencegah terjadinya dispepsia bahkan memperbaiki kondisi lambung secara tidak langsung (Ariyanto, 2007)
Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia :
1.   Atur pola makan seteratur mungkin.
2.   Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung
      (coklat, keju, dan lain-lain).
3.   Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang, melon, semangka, dan lain-lain).
4.   Hindari makanan yang terlalu pedas.
5.   Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol.
6.   Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat anti-inflammatory, misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen, dan ketoprofen. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding lambung.
7.   Kelola stress psikologi se-efisien mungkin.
8.   Jika anda perokok, berhentilah merokok.
9.   Jika anda memiliki gangguan acid reflux, hindari makan sebelum waktu tidur.
10. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu, seperti makan terlalu banyak, terutama makanan berat dan berminyak, makan terlalu cepat, atau makan sesaat sebelum olahraga.
11. Pertahankan berat badan sehat
12. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu) untuk mengurangi stress dan mengontrol berat badan, yang akan mengurangi dispepsia.
13. Ikuti rekomendasi dokter Anda mengenai pengobatan dispepsia. Baik itu antasid, PPI, penghambat histamin-2 reseptor, dan obat motilitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar