Senin, 19 April 2010


Created by
NURSLAMET
04.07.1814
F/KP/VI
LUKA DAN PERAWATANNYA
A.   Pengertian
Luka  adalah  suatu  gangguan  dari  kondisi  normal  pada  kulit  (  Taylor,  1997).  Luka
adalah  kerusakan  kontinyuitas  kulit,  mukosa  membran  dan  tulang  atau  organ  tubuh  lain
(Kozier, 1995).
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1.    Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2.    Respon stres simpatis
3.    Perdarahan dan pembekuan darah
4.    Kontaminasi bakteri
5.    Kematian sel
B.   Jenis-Jenis Luka
Luka  sering  digambarkan  berdasarkan  bagaimana  cara  mendapatkan  luka  itu  dan
menunjukkan derajat luka (Taylor, 1997).
1.    Berdasarkan tingkat kontaminasi
a.    Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi
proses  peradangan   (inflamasi)  dan  infeksi  pada  sistem  pernafasan,  pencernaan,
genital  dan  urinari  tidak  terjadi.  Luka  bersih  biasanya  menghasilkan  luka  yang
tertutup;  jika  diperlukan  dimasukkan  drainase  tertutup  (misal;  Jackson  -  Pratt).
Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
b.    Clean-contamined    Wounds    (Luka    bersih    terkontaminasi),    merupakan    luka
pembedahan  dimana  saluran  respirasi,  pencernaan,  genital  atau  perkemihan  dalam
kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi
luka adalah 3% - 11%.
c.    Contamined  Wounds  (Luka  terkontaminasi),  termasuk  luka  terbuka,  fresh,  luka
akibat  kecelakaan  dan  operasi  dengan  kerusakan  besar  dengan  teknik  aseptik  atau
kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi
nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
d.    Dirty    or    Infected    Wounds    (Luka    kotor    atau    infeksi),    yaitu    terdapatnya
mikroorganisme pada luka.
2.    Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
a.    Stadium  I  :  Luka  Superfisial  ("Non-Blanching  Erithema)  :  yaitu  luka  yang  terjadi
pada lapisan epidermis kulit.
b.    Stadium  II  :  Luka  "Partial  Thickness"  :  yaitu  hilangnya  lapisan  kulit  pada  lapisan
epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda
klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c.    Stadium  III  :  Luka  "Full  Thickness"  :  yaitu  hilangnya  kulit  keseluruhan  meliputi
kerusakan  atau  nekrosis  jaringan  subkutan  yang dapat  meluas  sampai  bawah  tetapi
tidak   melewati   jaringan    yang   mendasarinya.    Lukanya   sampai   pada   lapisan
epidermis,  dermis  dan  fasia  tetapi  tidak  mengenai  otot.  Luka  timbul  secara  klinis
sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d.    Stadium  IV  :  Luka  "Full  Thickness"  yang  telah  mencapai  lapisan  otot,  tendon  dan
tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
Luka dan Perawatannya
1




3.    Berdasarkan waktu penyembuhan luka
a.    Luka   akut   :   yaitu   luka   dengan   masa   penyembuhan   sesuai   dengan   konsep
penyembuhan yang telah disepakati.

b.    Luka  kronis  yaitu  luka  yang  mengalami  kegagalan  dalam  proses  penyembuhan,
dapat karena faktor eksogen dan endogen.

C.   Mekanisme terjadinya luka :
1.    Luka  insisi  (Incised  wounds),  terjadi  karena  teriris  oleh  instrumen  yang  tajam.  Misal
yang  terjadi  akibat  pembedahan.  Luka  bersih  (aseptik)  biasanya  tertutup  oleh  sutura
seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2.    Luka   memar   (Contusion   Wound),   terjadi   akibat   benturan   oleh   suatu   tekanan   dan
dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3.    Luka  lecet  (Abraded  Wound),  terjadi  akibat  kulit  bergesekan  dengan  benda  lain  yang
biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4.    Luka  tusuk  (Punctured  Wound),  terjadi  akibat  adanya  benda,  seperti  peluru  atau  pisau
yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5.    Luka  gores  (Lacerated  Wound),  terjadi  akibat  benda  yang tajam  seperti  oleh  kaca  atau
oleh kawat.
6.    Luka  tembus  (Penetrating  Wound),  yaitu  luka  yang  menembus  organ  tubuh  biasanya
pada  bagian  awal  luka  masuk  diameternya  kecil  tetapi  pada  bagian  ujung  biasanya
lukanya akan melebar.
Luka dan Perawatannya
2



7.    Luka Bakar (Combustio)

D.   Penyembuhan Luka
Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan
dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing
dan  perkembangan  awal  seluler  bagian  dari  proses  penyembuhan.  Proses  penyembuhan
terjadi  secara  normal  tanpa  bantuan,  walaupun  beberapa  bahan  perawatan  dapat  membantu
untuk  mendukung  proses  penyembuhan.  Sebagai  contoh,  melindungi  area  yang  luka  bebas
dari  kotoran  dengan  menjaga  kebersihan  membantu  untuk  meningkatkan  penyembuhan
jaringan (Taylor, 1997).
1.    Prinsip Penyembuhan Luka
Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997) yaitu: (1)
Kemampuan   tubuh   untuk   menangani   trauma   jaringan   dipengaruhi   oleh   luasnya
kerusakan  dan  keadaan  umum  kesehatan  tiap  orang,  (2)  Respon  tubuh  pada  luka  lebih
efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga, (3) Respon tubuh secara sistemik pada trauma,
(4)  Aliran  darah  ke  dan  dari  jaringan   yang  luka,  (5)  Keutuhan  kulit  dan  mukosa
membran    disiapkan    sebagai    garis    pertama    untuk    mempertahankan    diri    dari
mikroorganisme,  dan  (6)  Penyembuhan  normal  ditingkatkan  ketika  luka  bebas  dari
benda asing tubuh termasuk bakteri.
2.    Fase Penyembuhan Luka
Penyembuhan  luka  adalah  suatu  kualitas  dari  kehidupan  jaringan  hal  ini  juga
berhubungan  dengan  regenerasi  jaringan.  Fase  penyembuhan  luka  digambarkan  seperti
yang terjadi pada luka pembedahan (Kozier,1995).
Menurut Kozier, 1995
a.    Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 - 4 hari. Dua proses utama
terjadi  pada  fase  ini  yaitu  hemostasis  dan  pagositosis.  Hemostasis  (penghentian
perdarahan)  akibat  fase  konstriksi  pembuluh  darah  besar  di  daerah  luka,  retraksi
pembuluh   darah,   endapan   fibrin   (menghubungkan   jaringan)   dan   pembentukan
bekuan darah di daerah luka. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan
matrik  fibrin  yang  menjadi  kerangka  bagi  pengambilan  sel.  Scab  (keropeng)  juga
dibentuk  dipermukaan  luka.  Bekuan  dan  jaringan  mati,  scab  membantu  hemostasis
dan  mencegah  kontaminasi  luka  oleh  mikroorganisme.  Dibawah  scab  epithelial  sel
berpindah  dari  luka  ke  tepi.  Epitelial  sel  membantu  sebagai  barier  antara  tubuh
dengan lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme
Luka dan Perawatannya
3




Fase   inflamatori   juga   memerlukan   pembuluh   darah   dan   respon   seluler
digunakan  untuk  mengangkat  benda-benda  asing  dan  jaringan  mati.  Suplai  darah
yang  meningkat  ke  jaringan  membawa  bahan-bahan  dan  nutrisi  yang  diperlukan
pada  proses  penyembuhan.  Pada  akhirnya  daerah  luka  tampak  merah  dan  sedikit
bengkak.
Selama   sel   berpindah   lekosit   (terutama   neutropil)   berpindah   ke   daerah
interstitial.  Tempat  ini  ditempati  oleh  makrofag  yang  keluar  dari  monosit  selama
lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme dan
sel  debris  melalui  proses  yang  disebut  pagositosis.  Makrofag  juga  mengeluarkan
faktor  angiogenesis  (AGF)  yang  merangsang  pembentukan  ujung  epitel  diakhir
pembuluh    darah.    Makrofag    dan    AGF    bersama-sama    mempercepat    proses
penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan
b.    Fase Proliferatif
Fase  kedua  ini  berlangsung  dari  hari  ke-3  atau  4  sampai  hari  ke-21  setelah
pembedahan.   Fibroblast   (menghubungkan   sel-sel   jaringan)   yang   berpindah   ke
daerah luka mulai 24 jam pertama setelah pembedahan. Diawali dengan mensintesis
kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi
luka.  Kolagen  adalah  substansi  protein  yang  menambah  tegangan  permukaan  dari
luka.   Jumlah   kolagen   yang   meningkat   menambah   kekuatan   permukaan   luka
sehingga   kecil   kemungkinan   luka   terbuka.   Selama   waktu   itu   sebuah   lapisan
penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka.
Kapilarisasi   tumbuh   melintasi   luka,   meningkatkan   aliran   darah    yang
memberikan  oksigen  dan  nutrisi  yang  diperlukan  bagi  penyembuhan.  Fibroblast
Luka dan Perawatannya
4




berpindah  dari  pembuluh  darah  ke  luka  membawa  fibrin.  Seiring  perkembangan
kapilarisasi   jaringan   perlahan   berwarna   merah.   Jaringan   ini   disebut   granulasi
jaringan yang lunak dan mudah pecah.
c.    Fase Maturasi
Fase    maturasi    dimulai    hari    ke-21    dan    berakhir    1-2    tahun    setelah
pembedahan.   Fibroblast   terus   mensintesis   kolagen.   Kolagen   menjalin   dirinya   ,
menyatukan  dalam  struktur  yang  lebih  kuat.  Bekas  luka  menjadi  kecil,  kehilangan
elastisitas dan meninggalkan garis putih.
Menurut Taylor (1997):
a.    Fase Inflamatory
Fase  inflammatory  dimulai  setelah  pembedahan  dan  berakhir  hari  ke  3  -  4
pasca operasi. Dua tahap dalam fase ini adalah Hemostasis dan Pagositosis. Sebagai
tekanan yang besar, luka menimbulkan lokal adaptasi sindrom. Sebagai hasil adanya
suatu konstriksi pembuluh darah, berakibat pembekuan darah untuk menutupi luka.
Diikuti  vasodilatasi  menyebabkan  peningkatan  aliran  darah  ke  daerah  luka  yang
dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan
debris.  Lebih  kurang  24  jam  setelah  luka  sebagian  besar  sel  fagosit  (  makrofag)
masuk  ke  daerah  luka  dan  mengeluarkan  faktor  angiogenesis  yang  merangsang
pembentukan anak epitel pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali
dapat terjadi.
b.    Fase Proliferative
Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast secara
cepat mensintesis kolagen dan substansi dasar. Dua substansi ini membentuk lapis-
lapis perbaikan luka. Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan
aliran darah ada didalamnya, sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi
tumbuh).  Jaringan  baru  ini  disebut  granulasi  jaringan,  adanya  pembuluh  darah,
kemerahan dan mudah berdarah.
c.    Fase Maturasi
Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama
1  -  2  tahun  setelah  luka.  Kollagen  yang  ditimbun  dalam  luka  diubah,  membuat
penyembuhan  luka  lebih  kuat  dan  lebih  mirip  jaringan.  Kollagen  baru  menyatu,
menekan  pembuluh  darah  dalam  penyembuhan  luka,  sehingga  bekas  luka  menjadi
rata, tipis dan garis putih.
Menurut Potter (1998):
a.    Devensive / Tahap Inflamatory
Luka dan Perawatannya
5



Dimulai ketika sejak integritas kulit rusak/terganggu dan berlanjut hingga 4-
6  hari.  Tahap  ini  terbagi  atas  Homeostasis,  Respon  inflamatori,  Tibanya  sel  darah
putih di luka. Hemostasis adalah kondisi dimana terjadi konstriksi pembuluh darah,
membawa  platelet  menghentikan  perdarahan.  Bekuan  membentuk  sebuah  matriks
fibrin  yang mencegah masuknya organisme infeksius. Respon inflammatory adalah
saat  terjadi  peningkatan  aliran  darah  pada  luka  dan  permeabilitas  vaskuler  plasma
menyebabkan kemerahan dan bengkak pada lokasi luka. Sampainya sel darah putih
di   luka   melalui   suatu   proses,   neutrophils   membunuh   bakteri   dan   debris   yang
kemudian  mati  dalam  beberapa  hari  dan  meninggalkan  eksudat  yang  menyerang
bakteri  dan  membantu  perbaikan  jaringan.  Monosit  menjadi  makrofag,  selanjutnya
makrofag  membersihkan  sel  dari  debris  oleh  pagositosis,  Meningkatkan  perbaikan
luka dengan mengembalikan asam amino normal dan glukose . Epitelial sel bergerak
dari dalam ke tepi luka selama lebih kurang 48 jam.
b.    Reconstruksion / Tahap Prolifrasi
Penutupan dimulai hari ke-3 atau ke-4 dari tahap defensive dan berlanjut
selama 2 - 3 minggu. Fibroblast berfungsi membantu sintesis vitamin B dan C, dan
asam amino pada jaringan kollagen. Kollagen menyiapkan struktur, kekuatan dan
integritas luka. Epitelial sel memisahkan sel-sel yang rusak.
c.    Tahap Maturasi
Tahap  akhir  penyembuhan  luka  berlanjut  selama  1  tahun  atau  lebih  hingga  bekas
luka merekat kuat.
E.   Faktor yang Mempengaruhi Luka
1.    Usia
Anak  dan  dewasa  penyembuhannya  lebih  cepat  daripada  orang  tua.  Orang  tua
lebih  sering  terkena  penyakit  kronis,  penurunan  fungsi  hati  dapat  mengganggu  sintesis
dari faktor pembekuan darah.
2.    Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. Klien memerlukan diit
kaya  protein,  karbohidrat,  lemak,  vitamin  C  dan  A,  dan  mineral  seperti  Fe,  Zn.  Klien
kurang  nutrisi  memerlukan  waktu  untuk  memperbaiki  status  nutrisi  mereka  setelah
pembedahan  jika  mungkin.  Klien  yang  gemuk  meningkatkan  resiko  infeksi  luka  dan
penyembuhan lama karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat.
3.    Infeksi
Infeksi luka menghambat penyembuhan. Bakteri sumber penyebab infeksi.
4.    Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
Sejumlah   kondisi   fisik   dapat   mempengaruhi   penyembuhan   luka.   Adanya
sejumlah  besar  lemak  subkutan  dan  jaringan  lemak  (yang  memiliki  sedikit  pembuluh
darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak
lebih  sulit  menyatu,  lebih  mudah  infeksi,  dan  lama  untuk  sembuh.  Aliran  darah  dapat
terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah
perifer, hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang
menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok.
Kurangnya  volume  darah  akan  mengakibatkan  vasokonstriksi  dan  menurunnya
ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
5.    Hematoma
Luka dan Perawatannya
6



Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap
diabsorbsi  oleh tubuh masuk kedalam  sirkulasi. Tetapi  jika terdapat  bekuan  yang besar
hal  tersebut  memerlukan  waktu  untuk  dapat  diabsorbsi  tubuh,  sehingga  menghambat
proses penyembuhan luka.
6.    Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya
suatu  abses  sebelum  benda  tersebut  diangkat.  Abses  ini  timbul  dari  serum,  fibrin,
jaringan  sel  mati  dan  lekosit  (sel  darah  merah),  yang  membentuk  suatu  cairan  yang
kental yang disebut dengan nanah ("Pus").
7.    Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada
bagian  tubuh  akibat  dari  obstruksi  dari  aliran  darah.  Hal  ini  dapat  terjadi  akibat  dari
balutan  pada  luka  terlalu  ketat.  Dapat  juga  terjadi  akibat  faktor  internal  yaitu  adanya
obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
8.    Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah,
nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan
protein-kalori tubuh.
9.    Keadaan Luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan
luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.
10.  Obat
Obat  anti  inflamasi  (seperti  steroid  dan  aspirin),  heparin  dan  anti  neoplasmik
mempengaruhi  penyembuhan  luka.  Penggunaan  antibiotik  yang  lama  dapat  membuat
seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a.    Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera
b.    Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
c.    Antibiotik  :  efektif  diberikan  segera  sebelum  pembedahan  untuk  bakteri  penyebab
kontaminasi  yang  spesifik.  Jika  diberikan  setelah  luka  pembedahan  tertutup,  tidak
akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
F.    Komplikasi Penyembuhan Luka
Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi, perdarahan, dehiscence dan eviscerasi.
1.    Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau
setelah   pembedahan.   Gejala   dari   infeksi   sering   muncul   dalam   2   -   7   hari   setelah
pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan drainase,
nyeri,  kemerahan  dan  bengkak  di  sekeliling  luka,  peningkatan  suhu,  dan  peningkatan
jumlah sel darah putih.
2.    Perdarahan
Perdarahan  dapat  menunjukkan  suatu  pelepasan  jahitan,  sulit  membeku  pada
garis  jahitan,  infeksi,  atau  erosi  dari  pembuluh  darah  oleh  benda  asing  (seperti  drain).
Hipovolemia  mungkin  tidak  cepat  ada  tanda.  Sehingga  balutan  (dan  luka  di  bawah
balutan)  jika  mungkin  harus  sering dilihat  selama  48  jam  pertama  setelah  pembedahan
dan  tiap  8  jam  setelah  itu.Jika  perdarahan  berlebihan  terjadi,  penambahan  tekanan
Luka dan Perawatannya
7



balutan  luka  steril  mungkin  diperlukan.  Pemberian  cairan  dan  intervensi  pembedahan
mungkin diperlukan.
3.    Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence   dan   eviscerasi   adalah   komplikasi   operasi   yang   paling   serius.
Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviscerasi adalah keluarnya
pembuluh  melalui  daerah  irisan.  Sejumlah  faktor  meliputi,  kegemukan,  kurang  nutrisi,
,multiple  trauma,  gagal  untuk  menyatu,  batuk  yang  berlebihan,  muntah,  dan  dehidrasi,
mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka dapat terjadi 4 -
5  hari  setelah  operasi  sebelum  kollagen  meluas  di  daerah  luka.  Ketika  dehiscence  dan
eviscerasi  terjadi  luka  harus  segera  ditutup  dengan  balutan  steril  yang  lebar,  kompres
dengan  normal  saline.  Klien  disiapkan  untuk  segera  dilakukan  perbaikan  pada  daerah
luka.
G.   Perkembangan Perawatan Luka
Profesional  perawat  percaya  bahwa  penyembuhan  luka  yang  terbaik  adalah  dengan
membuat lingkungan luka tetap kering (Potter.P, 1998). Perkembangan perawatan luka sejak
tahun 1940 hingga tahun 1970, tiga peneliti telah memulai tentang perawatan luka. Hasilnya
menunjukkan bahwa lingkungan yang lembab lebih baik daripada lingkungan kering. Winter
(1962) mengatakan bahwa laju epitelisasi luka yang ditutup poly-etylen dua kali lebih cepat
daripada  luka  yang  dibiarkan  kering.  Hasil  penelitian  ini  menyimpulkan  bahwa  migrasi
epidermal  pada  luka  superficial  lebih  cepat  pada  suasana  lembab  daripada  kering,  dan  ini
merangsang perkembangan balutan luka modern ( Potter. P, 1998). Perawatan luka lembab
tidak  meningkatkan  infeksi.  Pada  kenyataannya  tingkat  infeksi  pada  semua  jenis  balutan
le:mbab adalah 2,5 %, lebih baik dibanding 9 % pada balutan kering (Thompson. J, 2000).
Rowel  (1970)  menunjukkan  bahwa  lingkungan  lembab  meningkatkan  migrasi  sel  epitel  ke
pusat  luka  dan  melapisinya  sehingga  luka  lebih  cepat  sembuh.  Konsep  penyembuhan  luka
dengan  teknik  lembab  ini  merubah  penatalaksanaan  luka  dan  memberikan  rangsangan  bagi
perkembangan balutan lembab ( Potter. P, 1998).
Penggantian balutan dilakukan sesuai kebutuhan tidak hanya berdasarkan kebiasaan,
melainkan  disesuaikan  terlebih  dahulu  dengan  tipe  dan  jenis  luka.  Penggunaan  antiseptik
hanya   untuk   yang   memerlukan   saja   karena   efek   toksinnya   terhadap   sel   sehat.   Untuk
membersihkan  luka  hanya  memakai  normal  saline  (Dewi,  1999).  Citotoxic  agent  seperti
povidine iodine, asam asetat, seharusnya tidak secara sering digunakan untuk membersihkan
luka  karena  dapat  menghambat  penyembuhan  dan  mencegah  reepitelisasi.  Luka  dengan
sedikit debris dipermukaannya dapat dibersihkan dengan kassa yang dibasahi dengan sodium
klorida dan tidak terlalu banyak manipulasi gerakan. (Walker. D, 1996)
Tepi  luka  seharusnya  bersih,  berdekatan  dengan  lapisan  sepanjang  tepi  luka.  Tepi
luka ditandai dengan kemerahan dan sedikit bengkak dan hilang kira-kira satu minggu. Kulit
menjadi tertutup hingga normal dan tepi luka menyatu.
Perawat dapat menduga tanda dari penyembuhan luka bedah insisi :
1.    Tidak ada perdarahan dan munculnya tepi bekuan di tepi luka.
2.    Tepi  luka  akan  didekatkan  dan  dijepit  oleh  fibrin  dalam  bekuan  selama  satu  atau
beberapa jam setelah pembedahan ditutup.
3.    Inflamasi (kemerahan dan bengkak) pada tepi luka selama 1 - 3 hari.
4.    Penurunan inflamasi ketika bekuan mengecil.
Luka dan Perawatannya
8



5.    Jaringan  granulasi  mulai  mempertemukan  daerah  luka.  Luka  bertemu  dan  menutup
selama  7  -  10  hari.  Peningkatan  inflamasi  digabungkan  dengan  panas  dan  drainase
mengindikasikan infeksi luka. Tepi luka tampak meradang dan bengkak.
6.    Pembentukan bekas luka.
7.    Pembentukan kollagen mulai 4 hari setelah perlukan dan berlanjut sampai 6 bulan atau
lebih.
8.    Pengecilan ukuran bekas luka lebih satu periode atau setahun. Peningkatan ukuran bekas
luka menunjukkan pembentukan kelloid.
H.   Tujuan Perawatan Luka
1.    Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2.    Absorbsi drainase
3.    Menekan dan imobilisasi luka
4.    Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5.    Mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6.    Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7.    Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien
I.    Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka
1.    Sodium Klorida 0,9 %
Sodium klorida adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh karena alasan
ini tidak ada reaksi hipersensitivitas dari sodium klorida. Normal saline aman digunakan
untuk  kondisi  apapun  (Lilley  &  Aucker,  1999).  Sodium  klorida  atau  natrium  klorida
mempunyai  Na  dan  Cl  yang  sama  seperti  plasma.  Larutan  ini  tidak  mempengaruhi  sel
darah  merah  (Handerson,  1992).  Sodium  klorida  tersedia  dalam  beberapa  konsentrasi,
yang  paling  sering  adalah  sodium  klorida  0,9  %.  Ini  adalah  konsentrasi  normal  dari
sodium klorida dan untuk alasan ini sodium klorida disebut juga normal saline (Lilley &
Aucker,  1999).  Merupakan  larutan  isotonis  aman  untuk  tubuh,  tidak  iritan,  melindungi
granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu
luka menjalani  proses penyembuhan serta mudah  didapat  dan harga relatif lebih murah
(http://rpromise.com/woundcare/)
2.    Larutan povodine-iodine.
Iodine  adalah  element  non  metalik  yang  tersedia  dalam  bentuk  garam  yang
dikombinasi  dengan  bahan  lain  Walaupun  iodine  bahan  non  metalik  iodine  berwarna
hitam kebiru-biruan, kilau metalik dan bau yang khas. Iodine hanya larut sedikit di air,
tetapi  dapat  larut  secara  keseluruhan  dalam  alkohol  dan  larutan  sodium  iodide  encer.
Iodide  tinture  dan  solution  keduanya  aktif  melawan  spora  tergantung  konsentrasi  dan
waktu  pelaksanaan  (Lilley  &  Aucker,  1999).  Larutan  ini  akan  melepaskan  iodium
anorganik bila kontak dengan kulit atau selaput lendir sehingga cocok untuk luka kotor
dan  terinfeksi  bakteri  gram  positif  dan  negatif,  spora,  jamur,  dan  protozoa.  Bahan  ini
agak  iritan  dan  alergen  serta  meninggalkan  residu  (Sodikin,  2002).  Studi  menunjukan
bahwa antiseptik seperti povodine iodine toxic terhadap sel (Thompson. J, 2000). Iodine
dengan  konsentrasi  >  3  %  dapat  memberi  rasa  panas  pada  kulit.  Rasa  terbakar  akan
nampak  dengan  iodine  ketika  daerah  yang dirawat  ditutup  dengan  balutan  oklusif  kulit
dapat ternoda dan menyebabkan iritasi dan nyeri pada sisi luka. (Lilley & Aucker, 1999).
Luka dan Perawatannya
9



MERAWAT LUKA
A.   Pengertian
Merawat  luka  untuk  mencegah  trauma  (injury)  pada  kulit,  membran  mukosa  atau
jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma, fraktur, luka operasi yang dapat merusak
permukaan kulit
B.   Tujuan
1.    Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa
2.    Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan
3.    Mempercepat penyembuhan
4.    Membersihkan luka dari benda asing atau debris
5.    Drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat
6.    Mencegah perdarahan
7.    Mencegah excoriasi kulit sekitar drain.
C.   Persiapan alat
1.    Set steril yang terdiri atas :
a.    Pembungkus
b.    Kapas atau kasa untuk membersihkan luka
c.    Tempat untuk larutan
d.    Larutan anti septic
e.    2 pasang pinset
f.     Gaas untuk menutup luka.
2.    Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti : extra balutan dan zalf
3.    Gunting
4.    Kantong tahan air untuk tempat balutan lama
5.    Plester atau alat pengaman balutan
6.    Selimut mandi jika perlu, untuk menutup pasien
7.    Bensin untuk mengeluarkan bekas plester
Luka dan Perawatannya
10




D.   Cara kerja
1.    Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Jawab pertanyaan pasien.
2.    Minta bantuan untuk mengganti balutan pada bayi dan anak kecil
3.    Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar
4.    Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. Bukan hanya pada daerah
luka, gunakan selimut mandi untuk menutup pasien jika perlu.
5.    Tempatkan  tempat  sampah  pada  tempat  yang  dapat  dijangkau.  Bisa  dipasang  pada  sisi
tempat tidur.
6.    Angkat plester atau pembalut.
7.    Jika menggunakan plester angkat dengan cara menarik dari kulit dengan hati-hati kearah
luka. Gunakan bensin untuk melepaskan jika perlu.
8.    Keluarkan  balutan  atau  surgipad  dengan  tangan  jika  balutan  kering  atau  menggunakan
sarung tangan jika balutan lembab. Angkat balutan menjauhi pasien.
9.    Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong plastik.
10.  Buka set steril
11.  Tempatkan pembungkus steril di samping luka
12.  Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan perhatikan jangan sampai mengeluarkan
drain atau mengenai luka insisi. Jika gaas dililitkan pada drain gunakan 2 pasang pinset,
satu untuk mengangkat gaas dan satu untuk memegang drain.
13.  Catat jenis drainnya bila ada, banyaknya jahitan dan keadaan luka.
14.  Buang  kantong  plastik.  Untuk  menghindari  dari  kontaminasi  ujung  pinset  dimasukkan
dalam kantong kertas, sesudah memasang balutan pinset dijauhkan dari daerah steril.
15.  Membersihkan  luka  menggunakan  pinset  jaringan  atau  arteri  dan  kapas  dilembabkan
dengan  anti  septik,  lalu  letakkan  pinset  ujungnya  labih  rendah  daripada  pegangannya.
Gunakan satu kapas satu kali mengoles, bersihkan dari insisi kearah drain :
a.    Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar
11




b.    Jika ada drain bersihakan sesudah insisi
c.    Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer, bersihkan dari tengah luka
kearah luar, gunakan pergerakan melingkar.
16.  Ulangi pembersihan sampai semua drainage terangkat.
17.  Olesi zalf atau powder. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat steril.
18.  Gunakan satu balutan dengan plester atau pembalut
19.  Amnkan balutan dengan plester atau pembalut
20.  Bantu pasien dalam pemberian posisi yang menyenangkan.
21.  Angkat peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor. Bersihkan alat dan
buang sampah dengan baik.
22.  Cuci tangan
23.  Laporkan adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat yang bertanggung
jawab. Catat penggantian balutan, kaji keadaan luka dan respon pasien.
Membersihkan Daerah Drain
Daerah  drain  dibersihkan  sesudah  insisi.  Prinsip  membersihkan  dari  daerah  bersih  ke
daerah yang terkontaminasi karena drainnya yang basah memudahkan pertumbuhan bakteri dan
daerah daerah drain paling banyak mengalami kontaminasi. Jika letak drain ditengah luka insisi
dapat dibersihkan dari daerah ujung ke daerah pangkal kearah drain. Gunakan kapas  yang lain.
Kulit sekitar drain harus dibersihkan dengan antiseptik.

Daftar Pustaka
1.    Kaplan  NE,  Hentz  VR,  Emergency  Management  of  Skin  and  Soft  Tissue  Wounds,  An
Illustrated Guide, Little Brown, Boston, USA, 1992.
2.    Oswari E, Bedah dan perawatannya, Gramedia, Jakarta, 1993.
3.    Thorek P, Atlas Teknik Bedah, EGC , Jakarta, 1994.
4.    Saleh M, Sodera VK, Ilustrasi Ilmu Bedah Minor, Bina rupa Aksara, Jakarta 1991.
5.    Wind GG, Rich NM, Prinsip-prinsip Teknik Bedah, Hipokrates Jakarta, 1992.
6.    Dudley  HAF,  Eckersley  JRT,  Paterson-Brown  S,    Pedoman  Tindakan  Medik  dan  Bedah,
EGC Jakarta 2000.
7.    Bachsinar B, Bedah Minor, Hipokrates, Jakarta, 1995.
8.    Puruhito, Dasar-daasar Teknik Pembedahan, AUP Surabaya, 1987.
9.    Zachary  CB,  Basic  Cutaneous  Surgery,  A  Primer  in  Technique,  Churchill  Livingstone,
London GB, 1990.
Luka dan Perawatannya
12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar