HIPERTENSI
Dian Mei Purwanti
04.07.1793
A. PENGERTIAN
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 10 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Pada lansia, hipetrensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.
B. PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak pada pusat vasomotor pada medula di otak. Dari vasomotor tersebut bermula jaras saraf simpatis yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di thorak dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotordihantarkan dalam bentuk impulsyang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neurun preganglionmelepaskan asetilkolin yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. Dengan dilepaskannya norepineprin akan mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriktor. Seseorang dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rngsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal menseksresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid linnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II yang menyebabkan adanya sutu vasokonstriktor yang kuat. Hal ini merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal yang mengakibatkan volume intravaskular. Semua faktor tesebut cenderung menyebabkan hipertensi.
Pada lansia, perubahan struktur dan fugsi pada sistem pmbuluh perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi. Perubahan tersebut meliputiaterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah yang akan menurunkankemampuan distensi daya regang pembuluh darah. Hal tersebut menyebabkan aorta dan arteri besar bekurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) sehingga terjadi penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer.
C. ETIOLOGI
1. Gangguan emosi
2. Obesitas
3. Konsumsi alkohol yang berlebih
4. Rangsangan kopi dan tembakau yang berlebihan
5. Obat-obatan
6. Keturunan
D. MANIFESTASI KLINIS
Pada pemeriksaan fisik kemungkinan tidak akan dijumpai adanya suatu kelainan yang nyata selain tekanan darah yang tinggi akan tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina seperti perdarahan , eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah dan pad kasus berat edema pupil (edema pada diskus optikus).
Seseorang yang mengalami hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala muncul biasanya dengan timbul adanya kerusakan vaskuler dengan manifestasi yang khas sesuai sitem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling sering menyertai hipertensi.
E. EVALUASI DIAGNOSTIK
Riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh sangat penting. Retina harus diperiksa dan dilakukanpemeriksaan laboratoriumuntuk mengkaji kemungkinan adanya kerusakan organ seperti ginjal dan jantung. Hipertrofi ventrikel kiri dapat dikaji dengan elektrokardiografi. Protein dalam urine dapat dideteksi dengan urinalisa. Pemeriksaa khusu seperti renogram, pielogram intravena, arteriogram renal, pemeriksaan fungsi ginjal terpisah, dan penentuan kadar urine dapat dilakukan untuk mengidentifikasikan pasien dengan penyakit renovaskular.
F. PENATALAKSANAAN
Respon tidak adekuat
Respon tidak adekuat
Atau Atau
Respon tidak adekuat
Alogaritma penanganan Hipertensi (Dari Fifth Report of the Joint National Comitte on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, Arch. Intern. Med. 1993; 153:163.)
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan supplay O2 dengan kebutuhan.
2. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, factor resiko dan perawatan
lanjut berhubungan dengan keterbatasan koginitf
3. Nyeri berhubungan dengan penurunan supplay darah koroner
4. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif
H. KEPUSTAKAAN
Arif Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Penerbit Media Aeusculapius FK-UI, Jakarta
Doenges M.E. at al., 1992, Nursing Care Plans, F.A. Davis Company, Philadelphia
Kuncara, H.Y, dkk, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, EGC, Jakarta
Joane C. Mc. Closkey, Gloria M. Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classification (NIC), Mosby Year-Book, St. Louis
Marion Johnson, dkk, 2000, Nursing Outcome Classifications (NOC), Mosby Year-Book, St. Louis
Marjory Gordon, dkk, 2001, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2001-2002, NANDA
Soeparman. (1987). Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
RENCANA KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWTAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan ketidak seimbangan
supplay O2 dengan kebutuhan NOC Outcome :
- pergerakan sendi aktif
- tingkat mobilitas
-perawatan ADLs
Client Outcome :
- peningkatan kemampuan dan
kekuatan otot dalam bergerak
- peningkatan aktivitas fisik NIC : Terapi latihan (pergerakan
Sendi
1. Observasi KU kien
2. Tentukan keterbatasan gerak
Klien
3. Lakukan ROM sesuai
Kemampuan
4. Kolaborasi dengan terapis untuk
melaksanakan latihan
NIC : Terapi latihan (kontrol otot)
1. Evaluasi fugsi sensorik
2. Gunakan sentuhan untuk
meminimalkan spasme otot
3. Tingkatkan aktivitas sesuai
kemampuan klien
Dengan latihan pergerakan akan mencegah terjadinya kontraktur
Meminimalkan pada kien untuk tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik
2. Kurang pengetahuan tentang
kondisi, pengobatan, factor resiko
dan perawatan lanjut berhubungan
dengan keterbatasan koginitf.
NOC Outcome : Pengetahuan tentang proses penyakit
Client Outcome :
- Pengetahuan meningkat
- Kooperatif dalam pengobatan NIC : Pengajaran proses penyakit
1. Kaji kesiapan klien untuk
menerima informasi
2. Kaji pengetahuan klien tentang
penyakit hipertensi, penanganan
dan pencegahannya
3. Bangun rasa saling percaya
4. Jalaskan tentang pengertian,
penyebab, tanda dan gejala,
penanganan dan pencegahan
sesuai dengan kemampuan klien
5. Evaluasi tingkat pemahaman dan
kemampuan dalam menerima
penjelasan
Mengetahui tingkat pengetahuan untuk kesiapan dalam penyuluhan lebih lanjut
Klien dapat belajar tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, penanganan dan pencegahan hipertensi
Pemahaman klien dapat membenatu menentukan intervesi lebih lanjut
3. Nyeri berhubungan dengan
penurunan supplay darah koroner NOC Outcome : Kontrol nyeri
Client Outcome :
- Mampu mendeskripsikan
Nyeri
- Mampu menggunakan teknik
nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri NIC : Manajemen nyeri
1. Monitor vital sign
2. Lakukan penilaian terhadap nyeri
meliputi lokasi, karakteristik,
durasi serta faktor pencetus
3. Fasilitasi lingkungan yang
Nyaman
4. Berikan obat anti nyeri
5. Berikan teknik nonfarmakologi
dengan relaksasi dan distraksi
Mengetahui adanya perubahan sistemik tubuh
Menentukan intervensi yang sesuai serta keefektifan terapi yang diberikan
Meningkatkan ketenangan dan kenyamanan
Mengurang nyeri
4. Resiko infeksi berhubungan
dengan tindakan invasif NOC Outcome : Kontrol infeksi
Client Outcome :
- Bebas dari tanda-tanda infeksi
- AL dan differensial normal
- Vital sign normal
- Mampu mendemostrasikan
cara pencegahan infeksi NIC : Manajemen infeksi
1. Observasi vital sign dan adanya
tanda-tanda infeksi pada daerah
dilakukan tindakan invasif
2. Monitor hasil laboratorium
3. Lakukan perawatan dengan
teknik septik dan aseptik
4. Kolaborasi pemberian antibiotik
5. Anjurkan klien dan keluarga
untuk menjaga kebersihan
lingkungan
Mengetahui sedini mungkin adanya tanda-tanda infeksi
Mencegah serta mengurangi terjadi infeksi silang
Memabantu mencegah infeksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar