Jumat, 19 Maret 2010

tugas kmb

bY:
Nama : I MAde Dwi CAhyadi
Kelas: F/KP/VI
Nim: 04.07.1800



LAPORAN PENDAHULUAN BPH (BENIGN PROSTATE HYPERTROPHY)



1. DEFINISI
Dahulu disebut juga sbg hipertropi prostat jinak (Benign Prostate Hypertrophy=BPH). Isitlah hipertropi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi adalah hyperplasia jelenjar periuretra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi sampai bedah. Prevelensinya meningkat sejalan dengan peningkatan usia pada pria (Mansjoer, Arif dkk, thn. 2000, halaman 329)
BPH adalah pembesaran kelenjar prostat, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi orifisium uretram, yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria di atas usia 60 tahun (Brunner & Suddarth, thn. 2000, halaman 1625)

2. ETIOLOGI
Etiologi BPH belum jelas namun terdapat faktor resiko umur dan hormone androgen. Perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria usia 30 – 40 tahum. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pria usia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50%, usia 80 tahun sekitar 80% dan usia 90 tahun 100% (Mansjoer, Arif dkk thn 2000 halaman 239)

3. GEJALA DAN TANDA
Gejala intensif yaitu sering miksi (freuensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria), sedangkan gejala obstruktif adalah pancaran melemah, rasa tidak lamplas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitarsy), harus mengedan (straining), kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memnajang yang ahirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow.
Gejala dan tanda pada pasien yang telah lanjut peyakitnya. Misalnya gagal ginjal, dapat ditemukan vremia,peningkatan tekanan darah, denyut nadi, respirasi, fostoruremik, perikarditis, ujung kuku yang pucat, tanda-tanda penurunan mental serta neuropati perifer. Bila sudah terjadi hidronefrosis atau pionefrosis, ginjal teraba dan ada nyeri di CVA ( Costo Vertebrae Angularis). Buli-buli yang distensi dapat dideteksi dengan palpasi dan perkusi. Pemeriksaan penis dan uretra penting untuk mencari etiologi dan menyngkirkan diagnosis banding seperti striktur, karsinoma, stenosis meatus atau fimosis.
Pada perabaan colok dubur harus diperhatikan konsistensi prostat (pada BPH) konsistensinya kenyal), adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas teraba. Kalau batas atas masih dapat teraba secara empiris besar jaringan prostat kurang dari 60 g.
Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan jumlah sisa urin setelah miksi spontan. Sisa urin dikurku dengan cara mengkur urin yang masih dapat keluar dengan kateterisasi. Sisa urin dapat juga diukur dengan melakukan USG buli-buli setelahmiksi. Sisa urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada hipertrofi prostat.
Derajat berat obstruksi dapat pula diukur dengan mengukur pancaran urin pada waktu miksi melalui alat uroflowmetri. Kecepatan aliran urin dipengaruhi oleh kekuatan kontraksi detrusor, tekanan intra buli-buli, dan tahanan uretra. Karena itu uroflowmetri tidak dapat membedakan kelainan karena obstruksi dengan kelainan karena kontraksi detrusor yang melemah.
4. PATOFISIOLOGI
Proses pembesaran postrat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluan kemih juga terjadi secara perlahan-lahan.
Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prsotat, resistensi pada leher buli-buli dan darah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut fase konpensasi. Apabila keadaan berlanjut dan tidak memapu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi reteniso urin yang selanjutnya dapat meyebakan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.
Adapun patofisiologi dari amsing-masing gejala adalah: penurunan kekuatan dan caliber aliran yang disebabkan resistensi uretra adalah gambaran awal dan menetap dari BPH:
- Hesistancy terjadi karena detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan resistensi uretra.
- Intermittency terjadi karena detrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminadribing dan rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urin yang banyak dalam bulibol.
- Mokturia dan frekensi terjadi karena pengososngan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.
- Frekuensi teruatama terjadi pada malam hari (nokturia) karena hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus spingter dari uretra berkurang selama tidur.
- Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.
- Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urin keluar sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli mencapai compliance maksimum, tekanan dalam bul-bul akan cepat naik melebihi tekanan springter.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan laboratorium
Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi. Bila terdapat hematuria, harus diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih, batu, isk, walaupun BPH sendiri dapat menyebabakan hematuria. Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari fungsi ginjal dan status metabolic. Pemeriksaan Prostate Sepsific Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsy atau sebagai deteksi dari keganasan. Bila nilai PSA <> 10 ng/ml.

b. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen pielografi intravena, USG dan sistoskopi. Tujua pemeriksaan pencitraan ini adalah untuk memperkirakan volumeBPH, menentukan derajat disfungis buli-buli dan volume residu urine, dan mencari kelainan patologi lain, baik yang berhubungan mapun tidak dengan BPH. Dari foto polos dapat dilihat adanya batu traktus urinarius, pembesaran ginjal atau buli-buli. Dapat juga dilihat lesiosteoblastik sebagai tanda metastasis dari kegananasan prostat serta osteoporosis akibat kegagalan ginjal.
Dari pielografi intravena dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis dan hidroureter, fish bool appearance (gambaran ureter bebrbelok-belok di vesika) indentasi pada dasar buli-buli, divertikel, residu urin,atau filling defeck di vesika.
Dari USG dapat diperkirakan besarnya prostat, memeriksa massa ginjal, mendeteksi residu urin, batu ginjal, divertiukulum atau tumor bulu-buli.

6. PENATALAKSANAAN
a. Observasi (watchful waiting)
Biasarnya dilakukan pada pseien dengan keluhan ringan (skor madseri Iversen ≤ 2). Naehat yang diberikan ialah mengurangi minum setelah makan makam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obat dekongetan (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi dan tidak diperbolehkan minum alcohol agar tidak terlalu sering miksi. Setiap tiga bulan lakukan control keluhan (system skor).

b. Terapimedikmentosa
- Penghambat adrenergika
Obat-obat yang sering dipakai adalah prazosin, doxatozin, teratozin, aflutosin atau yang lebih seletktif a la (tansulasin). Dosis dimulai 1 mg/hari sedangkan dosisi tamsulasin adalah 0,2 – 0,4 mg/hari. Penggunaan antagonis a-1-adrenergik karena secara selektif mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa mersak kontraktilitas detrusor. Obat ini menghambat reseptor-reseptor yang benyak ditemukan pada otot polos ditrigunum, leher vesika, prostat dan kapul prostat, sehingga terjadi relaksasi di daerah prostat. Hal ini akan menurunkan tekanan pada urethra pros prostetika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala berkurang. Biasanya pasien mulai measakan kekurangannya keluhan dalam waktu 1-2 minggu setelah ia mulai memakai obat. Efek samping yang mungkin timbul adalah psusing-pusing (dittiness), capek, sumbatan hidung, dan rasa lemah.

- Penghambat enzim s-a-reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1x5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat lebih lambat daripada golongan a bolker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang sangat besar. Efektivitasnya maish diperdebatkan karena baru menunjukkan perbaikan sedikit dri keluhan pasien setelah 6-12 bulan pengobatan bila dimakan terus-menerus. Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido, ginekomastia, dan dapat menurunkan nilai PSA (masking effect)
- Fitoterapi
Pengobatan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat. Substansinya misalnya pygeum africonum, saw palmetto, serenoa repeus, dan lain-lain. Efeknya diharapkan terjadi setelah pemberian selama 1-2 bulan.

c. Terapi bedah
Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tegantung beratnya gejala dan komplikasi. Indikasi absolute untuk terapi bedah, yaitu:
- Retensi urin berulang
- Hematuria
- Tanda penurunan fungsi ginjal
- Infeksi saluran kemih berulang
- Tanda-tanda obstruksi berat yaitu divertikel, hidroureter, dan hidronefrosis
- Ada batu saluran kemih.
Jenis pengobatan ini paling tinggi efektifitasnya. Intervensi bedah yang dapat dilakuak meliputi transurethral resectionof the prostat (TUR P), Transurethral Insision of the Prostate (TUIP), prostatektomi terbuka, dan prostatoktomi dengan laser dengan Md-YAG atau Ho-YAG.
TUR P masih merupakan standar emas. Indikasi TUR P ialah gejala-gejala sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 90 g dan pasien cukup sehat untuk menjalani operasi, komplikasi TUR P jangka pendek adalah perdarahan,infeksi, hiponatremia (TUR P), atau retensio oleh karena bekuan darah. Sedangkan komplikais jangka panjang ialah striktur uretra, ejakulasi retrograde (50-90%) atau impotensi (4-40%).
Bila volume prostat tidak terlalu besar atau ditemukan kontruktur lether vesika atau prostat fibrotic dapat dilakukan Transurethral incision of the Prosteste (TUIP). Indikasi TUIP ialah keluhan sedang atau berat, dengan volume prostat normal/kecil. Kompilkaisnya bias ejakulasi retrogard (0-37%)
Karena pembedahan tidak mengobati penyebab BPH, maka biasanya penyakit ini akan timbul kembali 8-10 tahun kemudian.

d. Terapi invasive minimal
- Transurethral Microwave Thermotherapy (TUMT)
Jenis pengobatan ini hanya dapat dilakukan di beberapa rumah sakit besar. Dilakukan pemanasan prostat dengan gelombang mikro yang dikeluarkan e kelenjar prostat melalui suatu transducer yang diletakkan di uretra pars prostatika.
- Dilatasi Balon Transurethral (TUBD)
- High-Intensity Fowsed Ultrasound
- Ablasi jarum Transuretra (TUNA)
- Stent Prostat

PENGKAJIAN
Sumber informasi : ¬- Medical record
- Keluarga pasien
- Pasien
Tanggal masuk / jam : 26-08-2008 / 07.00
Tanggal Pengkajian : 26-08-3008 / 14.30

1. BIODATA
a. Identitas Klien
Nama : Tn. S
Umur : 67 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Singkilang RT 2/05 Putat nagnaten Karang royong
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : -
Diagnose medis : BPH
No. RM : 109325

b. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn. Subadi
Umur : 31 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Singkilang RT 2/05 Putat Nganten Karang royong
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : -
Pekerjaan : Tani
Hub. dg pasien : Anak kandung pasien

2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan utama
Pasien mengatakan sulit untuk buang air kecil

b. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien terdiagnosa dengan kesadaran composmentis, aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat, pasien tampak lemah, dan pasien berbicara pelan dan lirih.

c. Riwayat kesehatan dulu
Pasien sudah dirawat di rumah sakit lebih dari satu minggu pada tanggal 3 Agustus 2008, pasien telah menjalani suatu opeasi, sebelum dirawat di Nakula, pasien dirawat di Perawatan Umum terlebiih dahulu.

d. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita penyakit yang sama.

e. Riwayat kesehatan lingkungan
Pasien tinggal dalam lingkungan dekat dengan persawahan

3. POLA FUNGSI KESEHATAN
a. Persepsi terhadap kesehatan
Kurang pengetahuan tentang pola hidup sehat, pasien tidak mengkonsumsi minuman keras.
b. Pola aktivitas lingkungan
- Sebelum sakit : dapat melakukan aktivitas secara mandiri, tidak memerlukan bantuan orang lain.
- Selama sakit

Aktivitas
Mandi : 2
Berpakaian :2
Eliminasi :3
Mobilisasi : 2
Ambulasi :2
Makan :2

Keterangan :
0 = Mandiri
1 = Alat bantu
2 = Dibantu orang lain
3 = Dibantu orang lain dan alat
4 = Ketergantungan/ketidakmampuan

c. Pola istirahat tidur
Pasien dapat tidur nyenyak, tetapi kadang-kadang terbangun sebentar dan tidur lagi

d. Pola nutrisi metabolic
Nafsu makan pasien baik tidak ada gangguan

e. Pola eliminasi
Pasien mengalami gangguan dan sulit untuk buang air kecil dan pasien terpasang kateter. Pasien menatakah daerah suprapublik terasa kaku. Pasien tidak mengalami gangguan BAB.

f. Pola kognitif perceptual
Pasien dalam keadaan sadar, tidak terjadi gangguan pengucapan, pasien dapat berbicara meskipun sangat lemah dan lirih, penglihatan tidak terganggu, fungsi pendengaran pasien sedikit terganggu.

g. Pola konsep diri
- Harga diri : tidak terganggu
- Local diri : tidak terganggu
- Identitas diri : timbul perasaan tidak berdaya
- Gambaran diri : tidak terganggu
- Peran diri : ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas dan peran

h. Pola koping
Pasien selalu terbuka kepala anggota keluarga ketika ada masalah selalu dipecahkan bersama.

i. Pola seksual reproduksi
Pasien sudah menikah

j. Pola peran hubungan
Hubungan pasien dengan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar baik.

k. Pola nilai dan kepercayaan
Pasien beragama Islam

4. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda-tanda vital
TD : 100/60 mmHg
S : 38o C

b. Keadaan Umum
Pasien terpasang infuse RL, dan dilakukan EKG, pasien lemah

c. Pemeriksaan Kepala
- Pada kepala : mesocepak, simetris, tidak ada deformitas, rambut jarang dan beruban, warna putih, tidak rontok, dan tidak ada lesi.
- Pola mata : konjungtiva merah muda, sclera berwarna putih, pupil isokor, kornea bening, iris berwarna coklat.
- Pola wajah : Ekspresi wajah tampak lemah, lesu dan tampak sedikit menahan nyeri
- Pola telinga : Tidak ada kotoran (serumen), tidak ada imflamasi, tidak ada benda asing pada dinding lubang telinga, fungsi pendengaran sedikit berkurang.
- Pola hidung : tidak ada massa, polip, fungsi pembauan baik, tidak ada perdarahan lewat hidung.
- Pola mulut : keadaan mulut simetris, gigi sudah berubah warna tampak sedikit kuning dan mulut kurang erjaga.

d. Pemeriksaan Leher
- Infeksi : warna kulit sama dengan warna kulit sekitarnya tidak terdapat lesi, dan tidak ada pembengkakan.
- Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada nyeri tekan.

e. Pemeriksaan thoraks (dada)
- Infeksi : Bentuk dada simetris, tidak ada retraksi pada saat inspirasi, terdapat iktus kordis
- Palpasi : Gerakan dada pada waktu bernafas simetris, tidak ada nyeri tekan.
- Perkusi : Terdapat bunyi redup
- Auskultasi : Suara pernafasan vesikuler

f. Pola Abdomen
- Infeksi : Abdomen simetris, tidak terdapat inflamasi
- Palpasi : Tidak terdapat nyeri
- Perkusi : Terdapat bunyi tympani
- Auskultasi : Terdapat suara usus

g. Genetalia : prostat tampak membesar

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Golongan darah pasien : O
 Hematogi
- Hemoglobin : 11,9*
- Eritrosit : 5.330.000
- Lekosit : 23.800
- BBS 1 jam : 10*
- BBS 2 jam : 30*
- Trombosit : 283.000
- Rhesuc : +
- Segmen : 83
- Limfosit : 11
- Monosit : 6

 Kimia Klinik
- Urenum : 36,2
- Creatin : 1,4
- Gula darah sewaktu : 83,8
- Ca+ : 12,6
- K+ : 4,19
- Ma+ : 137,8

 Urinalaisa
- Berat jenis : 1.020
- Warna : kuning
- pH : 5
- epithel : +
- Leucocyl : 7 - 8

PENATALAKSANAAN
Obat yang digunakan antara lain plasminex, clavox 500, tramodal. Pada tanggal 26 Agustus 2008 akan dilakukan operasi BPH. Pasien terpasang infuse RL 20 tetes/menit dan terpasang kateter.
Praktikan : Jam/ tgl

(nama mahasiswa)


DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Data Fokus

a. Data Subyektif

- Pasien mengatakan sulit untuk BAK

- Pasien mengatakan daerah suprapublik terasa kaku

- Pasien mengatakan daerah supra public terasa penuh

b. Data obyektif

- TD : 100/60 mmHg

- S : 38oC

- Pasien tampak lemah

- Pasien terpasang infuse RL

- Pasien tampak menahan nyeri

- Prostat tampak membesar

- Pasien tampak lesu

- Perawatan diri dibantu oleh keluarga

- Pasien terpasang kateter

- Warna urin kuning

- pH : 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar